Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 20, '04 9:47 PM
for everyone
Pagi-pagi, emang enaknya ngetik. Makanya sama Yang Di Atas gw ditakdirkan ngendon di kursi juru ketik sampai...udah brp tahun yak? Banyak deh. Soalnya gw ngetiknya cepet, kata bule2. Ada satu bule yang tergila2 sama suara ketikan gw yang meluncur sehingga sering sekali minta diketikin naskah2. Monyong. Alhamdulillah dalam sejarah kerja gw...cuma satu bule itu aja yg minta diketikin, yang lainnya bisa ngetik ndiri.

Baidewei...gw bukan mo ngomong tentang mesin ketik loh.

Setahun belakangan gw memutuskan untuk merubah satu segmen hidup gw. Mengapa? Yah, supaya puas aja sama diri gw. Bukan supaya diperhatikan orang atau bagaimana.

Eniwei, untuk pergi dan berangkat gw selalu naik salah satu dari 3 bis. Bis A, lewat Sudirman dan lewat depan rumah gw. Bis B, lewat Sudirman dan operasionalnya 24 jam. Bis C, lewat pas depan kantor ane, tapi jarang banget bisnya, dan jalannya rada muter. Gw pakai bergantian, tapi kalau untuk pulang selalu pakai bis A, makanya jarang pakai bis A untuk berangkat. Biar adil dong, hihihihihi.

Yang gw rubah adalah, gw sekarang berusaha untuk tidak membayar bis kurang dari tarifnya. Ngga selalu sih. Terkadang kalau uangnya susah dicapai, ya akhirnya cuma bayar se-cheng. Hehehehehe.Terkadang, gw kasih duit 1500, dikembalikan 500. Terkadang, gw kasih duit 1500, ngga dikembalikan sepeserpun. Macam-macam lah.

Tau kan gimana perlakuan awak bus terhadap penumpang? Ngga pernah beres kan? Berhentinya kadang jauh banget dari yang kita mau. Lalu disuruh: merapat-merapat-merapat, dijejal sampai seperti pindang. Udah digebrak-gebrak...bisnya ndak berhenti2. Belum masalah banyak copet di bis. Belum kebut2annya. Kalau membelok, ngga direm, jadinya penumpang miring sana sini. Banyak lah. Sapa sih di Jakarta ini yang ngga keqi sama perlakuan awak bus terhadap penumpang?

Why do I care to pay full (sometimes plus "tips") for such service?

Gw cuma berpikir kalau orang mau memberi cepe-gope ke pengamen bis, mengapa membayar bus fare kurang dari tarifnya?

So gw menahan gejolak amarah saat kondektur tidak mengembalikan uang kembalian, atau saat gw diturunkan jauh dari tujuan. Gw bilang...eh, amal-amal-amal. Beramal sama sesuatu yang menyebalkan kita rasanya lebih sulit daripada beramal sama sesuatu yang agamais atau menyedihkan kita.

Kondektur dan supir bis adalah pekerja-pekerja seperti kita. Gw ngga tau berapa pendapatan mereka. Gw rasa, situasi dan warisan pendahulu mendidik mereka memberikan service semacam itu pada penumpang. Gw sering melihat kursi2 supir yang miring ke kiri. Apa lehernya ngga tengeng kalau harus selalu menatap ke depan, sementara badannya miring ke kiri? Gw juga suka bertanya-tanya, dimana dan kapan mereka buang air kecil? Kapan makan siang? Kapan makan pagi? Kapan makan malam? Kalau kena macet...bagaimana dengan itu tadi semua?

Saya mencoba memperlakukan mereka seperti manusia juga... sedapatnya, ngga selalu sih. Misalnya kalau mau turun, daripada menggebrak-gebrak langit2 bis, saya mendekat ke kepala supir dan bilang minta turun di anu. Atau kalau saya di pintu depan, kondektur di pintu belakang, saya akan mengangguk ketika kondektur bertanya apa mau turun di situ. A simple nodd would do, cuman kebanyakan orang ngga mau memandang muka kondektur. Seakan-akan kita akan ketularan penyakit kalau memandang muka mereka.

You are how you treat people, katanya.

Gw ngga banyak melihat perubahan pada bis-bis yang gw tumpangi karena setahun ini gw bertingkah laku seperti itu. Tak apa. Gw beramal atau berlaku seperti di atas itu adalah untuk diri gw. Bukan untuk mereka. Masalah mereka mau merubah tata cara mereka, itu urusan mereka, gw ngga ambil pusing. Mengapa gw menulis ini? Ya untuk menguatkan hati gw untuk terus melanjutkan apa yg sudah gw biasakan pada diri gw. Hehehehehe...iya...gw self-centered banget yak?


Photo courtesy of www.ashabot.com



alizai wrote on Oct 20, '04
Gue pernah baca dimanaaaa gitu, lupa, supir2 itu gak seharian terus menerus nyupir loh...mereka juga kenal sistem shift. Kalo mereka cape n butuh istirahat (biasanya setelah beberapa rate atau pulang pergi), ya mereka cari penggantinya....
wateromarch wrote on Oct 20, '04
alizai said
Gue pernah baca dimanaaaa gitu, lupa, supir2 itu gak seharian terus menerus nyupir loh...mereka juga kenal sistem shift. Kalo mereka cape n butuh istirahat (biasanya setelah beberapa rate atau pulang pergi), ya mereka cari penggantinya....
Cuman kayaknya klo kena macet, sistim shift-nya ngga berlaku yah?
Add a Comment